Paguyuban Turonggo Putro Pendowo Rayakan Ultah Kedua

BabelTerkini.com, Bangka Barat – Paguyuban Seni Kuda Lumping Turonggo Putro Pendowo, yang bermarkas di Kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat, merayakan Ulang Tahun mereka yang kedua tahun.

Paguyuban Seni Turonggo Putro Pendowo sendiri, adalah sebuah Komunitas seni Kuda Lumping Yang terbentuk pada tanggal 27 Januari 2020 lalu, merupakan salah satu paguyuban seni suku jawa yang ada di Kecamatan Muntok , dimana ada 3 buah Komunitas Kuda Lumping dan mempunyai Versi alunan musik yang berbeda-beda.

Turonggo Putro Pendowo atau disebut TPP, adalah sebuah Komunitas kuda lumping yang mengedepankan Versi Banyumas, sehingga dalam Perjalanannya yang saat ini Berusia 2 tahun, sudah memiliki Akta sah dibawah Binaan Disparbud Kabupaten Bangka Barat, serta sering tampil di Beberapa event serta kegiatan hiburan di Kota Mentok, seperti HUT Kabupaten Bangka Barat, Hut Kota Muntok dan kegiatan Perayaan Perang Ketupat di Kecamatan Tempilang serta kegiatan sosial lainnya.

Dalam Sambutannya pada peringatan hari jadi Paguyuban TPP, Pembina TPP, Firman Novayuddin atau yang akrab disapa Nova menyampaikan, bahwa TPP sendiri terbentuk sebagai wadah untuk para pecinta seni musik jaranan, sehingga TPP dapat melestarikan seni dan Budaya yang ada di masyarakat karena Indonesia memiliki beragam suku, Ras dan Agama.

“Paguyuban ini kami dirikan sebagai wadah bagi para pencinta seni musik Jaranan yang ada di Kabupaten Bangka Barat. Selain untuk menghibur para pecinta seni Jaranan, kami juga bertujuan untuk melestarikan seni budaya ini,” ujar Nova. (28/01/2021) kemarin.

Nova berharap meskipun dengan keterbatasan sarana dan prasarana, namun kedepan nanti, kegiatan Seni Kuda Lumping bisa lebih mempunyai nilai seni yang tinggi mulai dari kostum, peralatan musik, alunan musik dan tariannya sehingga dapat lebih diterima di masyarakat, sebagai salah satu Tontonan yang selain bisa menghibur masyarakat, seni ini juga bisa menjadi Tuntunan bagi para umat Islam, karena menurut sejarahnya sendir, seni Kuda Lumping ini merupakan salah satu seni yang diciptakan dan digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan Agama Islam di Indonesia, khususnya di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

“Meski dengan sarana dan prasarana yang terbatas, namun kedepan kita ingin agar seni ini mempunyai nilai yang lebih dari saat ini. Tujuan kami, selain sebagai sarana menghibur masyarakat, juga agar seni ini bisa menjadi tuntunan bagi umat Islam. Karena menurut sejarah, kanjeng Sunan Kalijaga juga menggunakan seni ini dalam menyebarkan agama Islam, terutama di Kediri,” tambah Nova.

Terkait situasi saat ini, dimana wabah Civid 19 tengah melanda, Nova berharap kepada keluarga besar TPP, Paguyuban Seni Kuda Lumping Wahyu Condro Budoyo, Kuda Lumping Tresno Budoyo serta Komunitas Anak Muntok Punye Gawe (A-M_Pe-Ge) untuk tetap mendukung program pemerintah dalam mencegah terjadinya peredaran Virus Covid 19,

“Mari kita dukung program Pemerintah untuk mengatasi waba covid 19 ini. Sehingga kita bisa kembali mendukung pemerintah dalam memberikan hiburan guna Menunjang Pariwisata di Kabupaten Bangka Barat,” sambung Nova.

Dalam sambutan terakhirnya, Nova yang juga merupakan bergaris keturunan dari Jawa Tengah tidak lupa juga Menyampaikan ucapan ribuan terima kasih kepada seluruh pihak yang sudah mendukung terbentuknya Paguyuban seni Kuda Kumping TPP serta Masyarakat yang sudah menerima kehadiran TPP di Kab. Bangka Barat.

“Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh pihak yang telah mendukung serta menerima Paguyuban kami ini,”tandasnya. (Rel)