Polemik Penyaluran Kompensasi KIP di Perairan Matras dan Sekitarnya Kembali Mencuat

Kejati Babel Mulai Membidik?

BABELTERKINI.COM, SUNGAILIAT – Penyaluran kompensasi oleh sejumlah Kapal Isap Produksi (KIP) di perairan laut Matras, Sungailiat dan sekitarnya telah menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Sebelumnya beberapa waktu lalu, polemik ini sempat mencuat terkait kisruh pembagian kompensasi KIP yang diklaim sebagai dana pembinaan kepada sejumlah Ormas dan LSM di Sungailiat serta kepada segelintir oknum wartawan.

Kini isu penyaluran kompensasi KIP ini kembali menyeruak kepermukaan. Bahkan persoalan kompensasi KIP Perairan Matras saat ini dikabarkan sudah mulai dibidik Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung.

“Para ketua RT di Matras deg-degan. Dana kompensasi dibidik Kajati,” demikian cuitan informasi yang beredar di WAG wartawan Bangka.

Kendati cuitan kabar tersebut belum mendapat tanggapan dari pihak Kejati Babel, pengusutan terkait penyaluran dana kompensasi KIP tersebut memang layak dan harus diusut.

Pasalnya, berdasarkan hasil penelusuran media ini mengindikasikan adanya dugaan penyimpangan dalam penyaluran kompensasi KIP yang beroperasi di perairan Matras. Seperti halnya di lingkungan Sinar Jaya – Jelutung.

“Panitia lingkungan Sinjel ( Bideng Ake, Sinjay, Kudai Utara dan Jelutung, red ) telah memotong uang kompensasi sebesar 500 dari 5.000 total uang kompensasi yang diflotkan untuk para Kaling secara pribadi,” ungkap sumber yang minta identitasnya dirahasiakan, Senin (17/5/21).

Bahkan kata sumber, ada Kaling diduga oleh warga bermain karena warganya hanya sekitar 200 KK. Tapi mendapat jatah kompensasi terbesar dari KIP yang beroperasi di Perairan Matras.

“Sudah belasan kali bongkar mereka hanya membagikan uang kompensasi 300 ribu rupiah paling tinggi sebanyak 2 x dan itupun tidak semua warga yang dapat. Boleh dikroscek pembagian tahap pertama itu mereka klaim semua dapat tapi tidak semuanya estimasi hanya 50 persen saja. Dan parahnya lagi. Lingkungan lain selain Sinjay hanya membagikan minuman dan sembako seniali 150 sampai 200 ribu yang di klaim sebagai kompensasi,” kata Sumber.

Masih kata sumber, perjuangan para oknum di Sinjel (Lingkungan Sinar Jaya – Jelutung, red) itu luar biasa bahkan banyak uang di bawah meja yang bisa dikroscek lewat para kuasa kapal.
“Mereka punya datanya. Terakhir dari kapal baru BLJ yang lagi ngasil, ada mantan lurah justru diduga kuat dapat jatah pribadi 500 rupiah perkilogram,” ungkapnya.

Padahal, sumber mengingatkan, seharusnya sebagai panitia yang baru megelola uang kompensasi masyarakat, mereka tidak boleh banyak bermain.
“Ini lingkaran pengelola uang masyarakat harusnya memang diaudit oleh pihak penegak hukum, sehingga penyimpangan-penyimpangan dalam penyaluran kompensasi KIP kepada masyarakat dapat diusut. Silahkan pak wartawan wewancara masyarakat, saya yakin mereka mau bersuara,” tandasnya.

Sumber juga menyebut jika dirinya mendapat info adanya pemotongan 300 rupiah dari total kompensasi 5000 rupiah yang dikelolah oleh panitia Sinjel untuk media dan 100 rupiah dari panitia Matras yang sebenarnya hak masyarakat.
“300 rupiah dari panitia Sinjel dan 100 rupiah dari panitia Matras. Total 400 rupiah haknya masyarakat yang dipotong,” rincinya.

Hatta salah satu tokoh masyarakat Bedeng Akeh di Lingkungan Sinjel membenarkan terkait adanya kekisruhan dalam penyaluran kompensasi KIP di lingkungannya.

“Kalau soal info kisruh memang ada. Kalau di Bedeng Akeh ini soal dana untuk pembangunan masjid sekarang ini ditiadakan. Padahal awalnya, ada flot untuk pembangunan masjid, nah sekarang ni sudah ditiadakan. Ini yang kami protes kenapa dana yang dulu diflotkan untuk masjid ditiadakan oleh panitia,” tanya Hatta.

Adapun info adanya pemotongan pembagian kompensasi oleh panitia untuk warga menurut Hatta masih diselidiki kebenarannya.

“Infonya seperti itu, ada pemotongan. Namun ini masih kami selidiki kebenarannya. Kemarin tim panitia sudah berjanji bahwa dalam waktu dekat ini akan mengumpulkan para Kaling dan perwakilan warga terkait permasalahan tersebut. Kita tunggu saja, mudah-mudahan info pemotongan itu tidak benar,” harapnya.

Sementara itu, Martoni Kaling Jelutung membantah terkait adanya pemotongan Kompensasi KIP untuk warganya.

“Tidak ada itu pak. Semuanya kita salurkan ke warga yang berhak menerimanya. Panitia tidak pernah memotong dana kompensasi KIP yang diperuntukan buat masyarakat apalagi diflotkan untuk para Kaling,” dalih Martoni, Selasa (18/5/21).

Lantas berapa nilai besaran kompensasi yang diberikan panitia kepada warga lingkungan Jelutung?

Martoni mengatakan jika kompensasi untuk warganya berupa paket sembako dan daging yang nilainya berkisar di atas Rp.200 ribu.

“Dari KIP kompensasinya berupa paket sembako kalau ditaksir sekitar rp.200.000 lebih. Itu diberikan saat bulan ramadhan dan H min 3 Idul Fitri kemarin juga ada disalurkan berupa 1 kg lebih daging sapi,” kata Martoni.

Saat disinggung seberapa banyak jumlah warga Jelutung yang menerima kompensasi berupa paket sembako dan daging tersebut? Martoni mengaku tidak tau pasti.

“Yang tau pasti jumlah warga yang menerima paket sembako dan daging itu ketua panitia pak Indra dan bendahara panitia. Kalau saya tidak tau pasti,” kata Martoni.

Sayangnya hingga berita ini diturunkan, konfirmasi forumkeadilanbabel.com via whatsapp ke pihak Indra selaku ketua panitia Kompensasi KIP Sinjul belum mendapat respon. Demikian juga Pian selaku Kaling Sinar Jaya yang disebut-sebut sebagai orang yang diberi tugas memuluskan beroperasinya KIP di perairan Matras dan sekitarnya juga tak kunjung memberikan tanggapannya. (Red)