Usai Gagal Lelang Jetty Sukal yang Hilang dari LPSE, Ini Keterangan dari Pokja

BABELTERKINI.COM, PANGKALPINANG – Pokja lelang proyek pembangunan tambat labuh atau jetty desa Sukal kecamatan Muntok akhirnya memberikan keterangan. Rini selaku pokja lelang di ULP Babel kepada wartawan yang menemuinya di kantor lantai 3 kantor gubernur Babel memastikan bahwa proses tender tersebut telah gagal. Padahal sebelumnya telah ada pemenang yang ditetapkan.

Status tahapan yang tertera secara online di LPSE sendiri menunjukkan proses penandatanganan kontrak. Namun pada Rabu (21/7/21) petang mendadak status tersebut hilang. Perbedaan subtansi dijadikan Rini dalih sebagai penyebab tender tersebut dinyatakan gagal. Permasalahan perbedaan subtansi yang disebut Rini sendiri, seharusnya sudah menjadi profesionalitas pokja. Kendati alasannya hanya sekedar salah judul, akan kah ini bagian dari kelalaian pokja, Berikut petikan wawancara wartawan dengan Rini selaku pokja lelang.

Wartawan : “Terkait proyek jetty Desa Sukal kecamatan Muntok, saat ini apa statusnya? karena saat ini sudah tidak ada lagi di daftar tahapan LPSE?”

Rini : “Tanggal 19 Juli 2021 kemaren masa sanggah berakhir. Eee… karena kedua pemenang tersebut tidak ada yang memenuhi kualifikasi teknis, jadi otomatis sistem gagal, dan tidak ada penetapan. Karena Kedua nya gugur.”

Wartawan : “Bukan kah sebelumnya sudah ada penetapan pemenang?”

Rini : “Sebelumnya iya, tetap ada prosesnya, sudah diserahin berita acaranya kepada Dinas Kelautan, tetapi setelah diserahin ke PPK ada masa evaluasi juga oleh PPK. Hal-hal yang dievaluasi PPK itu disanggah PPK dan diminta untuk evaluasi ulang. Yang ini proses evaluasi ulangnya.”

Wartawan : “Sekarang posisinya di LPSE sudah hilang, itu menandakan apa?”

Rini : “Begini, kalau sudah masa sanggah nya habis, maka otomatis sistem tertutup. Mungkin pada saat masa sanggah habis tanggal 19 Juli 2021 Selasa tanggal 21 Juli 2021 ada lebaran itu tertutup. Itu masuk akal sekali, jadi perlu waktu untuk meng-klik gagal. Kalau dulu kan otomatis, kalau misalnya 2 penawaran masuk, keduanya tidak lolos maka otomatis gagal tidak ada penetapan, tidak ada pemenang.”

Wartawan : “Status terakhir yang terekam di LPSE, itu statusnya penandatangan kontrak, kalau proses penandatanganan kontrak, bukannya sudah ada yang akan menandatangani?”

Rini : “Eee… jadwal tuh secara awalnya memang sudah di-setting sampai kontrak, ketika dia diproses evaluasi, tidak ada yang memenuhi. Jadwalnya tetap bulat dari pertama kayak begitu. Nanti ada masa sangah, walaupun tidak ada yang menang, tapi masa sanggah kita  tetap kita tunggu pak sampai 5 hari. Nah setelah masa sanggah itu ada masa kontrak. Sistem ini masih hidup pak walau pun tidak ada pemenangnya. Harusnya sudah mati dari LKPP.”

Wartawan : “Kenapa sampai ditetapkan pemenang, sementara pihak Pokja telah melakukan evaluasi dan dianggap memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai pemenang, lantas kenapa dievaluasi ulang lagi?”

Rini : “Beda substansi saja, antara pokja itu kan beda-beda pemikiran, kita kan pungut suara tidak semua satu pemahamannya. Beda pendapat. Lelang pertama kan ada pemenangnya. Ketika kita serahin berita acaranya, “dievaluasi lagi oleh dinas. Tidak serta merta hasil hasil kerja pokja itu langsung tanda tangan kontrak. Dipelajari lagi sama tim teknis nya.”

Wartawan : “Apa yang mereka (PPK) evaluasi?”

Rini : “Itu silahkan tanya dengan PPK pak.”

Wartawan : “Terkait perbedaan persepsi, perbedaannya terletak di mana? Apakah terkait dokumen atau masalah yang lain?”

Rini : “Eee… Dievaluasi pertama itu pak, yang dipermasalahkan adalah dukungan. Ada bahasa dukungan. Sedangkan bahasa dukungan itu menurut pokja hanya sekedar salah judul saja. Ketentuan-ketentuannya sama dengan dengan ketentuan sewa.”

Wartawan : “Dukungan apa itu?”

Rini : “Eee… Surat..Surat beton mixer, truck mixer itu kan aturan aturan sebelumnya boleh dukungan. Didukung oleh BBP, Bangun Beton Perkasa, itu bahasa disurat mereka itu, judulnya  surat dukungan, tapi ketentuan-ketentuannya sama dengan menyewa. Jadi pokja meloloskan waktu itu. Karena isinya itu mendukung alat seluruhnya dan materialnya. Nah begitu, itu yang ditolak oleh PPK. Setelah tender (evaluasi-red) kedua, mereka minta ulang lagi benarkah hasil evaluasi kami, ternyata kami sependapat dengan PPK. Bahwa dukungan itu setelah diklarifikasi bahwa mereka itu tidak sepenuhnya. Maksudnya sewa dengan dukungan itu berbeda ketentuannya. Kalau sewa itu secara keseluruhan, pengoperasian alat. Kalau sekarang BBP tidak seperti itu, mereka yang mengoperasikan alat bukan si peserta lelang. Sedangkan syarat kita itu, kalau mempunya alat kalau sewa, harus sepenuhnya ditangan peserta. Jadi yang dibuat oleh peserta itu salah. Akhirnya kita sepemahaman. Sanggah diterima. Biasanya kita disanggah penyedia, sekarang kita kena sanggah PPK.”

Wartawan : “Jadi bukan karena dokumen bodong atau apa ya…?”

Rini : “Bukan.”

Wartawan : “Perusahaan apa yang menang kemarin?”

Rini : “Pemenang  pertama CV. Putri Lestari peringkat 1. Peringkat kedua CV. Doa Bersama. Selisih penawarannya sekitar 100 jutaan. Jadi untuk saat ini sistem kita dua pilihan. Evaluasi ulang, lelang gagal. Jadi dua kemungkinan, berita acara sudah kita serahkan ke kepala dinas nya, apa mau diulang lagi atau bagaimana. Waktunya masih cukup kalau mau lelang ulang lagi. (Red)