Polisi Line Dicopot, Dua Unit PC Amuk Hilang di Lokasi

BABELTERKINI.COM, BANGKA – Dua unit excavator atau power crawl (PC) Hitachi Orange yang berada di lahan tambang ilegal milik Amuk Perot tepatnya di Kolong Kebo, Dusun Deniang, Kecamatan Riau Silip, kabupaten Bangka, yang sebelumnya dililit garis polisi (police line) sejak sepekan lalu telah menghilang.

Padahal kedua unit excavator itu sempat disebut rusak dan tidak beroperasi saat dilakukan pengamanan oleh tim gabungan yang terdiri dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bangka Belitung, Korem 045/Gaya, Polisi Militer (PM), PT Timah Tbk, dan Polres Bangka pada 24 Agustus 2021 lalu.

“Sudah lama dibawa orangnya dan kalau tidak salah sudah hampir satu minggu ini dibawa kemana kami tidak tahu,” terang seorang warga yang ditemui wartawan Sabtu (11/09/2021) pagi.

Tak hanya itu, akibat dari tambang ilegal yang dikerjakan Amuk menyisakan masalah jalan. Amuk disebut-sebut sempat merubah posisi jalan umum yang selama ini menjadi akses warga.

Kala itu Amuk meminta izin merubah jalur jalan tersebut, dengan janji akan mengembalikan keadaannya seperti semula. Namun seiring kasus tambang ilegal yang menjerat Amuk, janji untuk memperbaiki kembali jalan tersebut kepada warga hanya bualan belaka.

Kondisi tambang yang sempat digerebek tim gabungan itu sendiri saat ini hanya terdapat mesin tambang dan peralatan tambang lainnya milik kru Amuk Perot. Sedangkan dua unit excavator dalam garis polisi yang sebelumnya masih terparkir di lokasi tambang, saat ini sudah raib. Belum ada pihak yang bertanggung jawab atas menghilangnya 2 excavator tersebut.

Diberitakan sebelumnya Polres Bangka, akhirnya menetapkan Amuk sebagai tersangka illegal mining dengan tuduhan melanggar Pasal 158 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara di Desa Daniang Dusun Bedukang Kecamatan Riau Silip pada Selasa (24/8/21) lalu. Pihak Polres Bangka sendiri dalam perkara ini hanya mengamankan 1 unit excavator sebagai barang bukti termasuk ratusan kilogram pasir Timah basah dari lokasi.

Sebelumnya Kasat Reskrim Polres Bangka, AKP. Ayu mengatakan bahwa kasus ilegal mining yang menjerat Amuk tidak berkembang kepada penampung. Karena Amuk bekerja baru 2 minggu sedangkan hasil yang didapat baru 800 kilogram pasir basah.

Pernyataan AKP Ayu ini justru kontroversi dengan data dari PT. Timah Tbk, yang sempat dirilis oleh kompas.com. Dalam versi PT. Timah Tbk Amuk sudah bekerja sejak 3 bulan sebelum ditangkap tim gabungan. Dengan penghasilan sekitar 150 kilogram perhari. Jika mengacu dari data ini, diperkirakan Amuk sudah mendulang belasan ton pasir Timah sejak bekerja menjarah di IUP OP milik PT. Timah tersebut. Namun pihak penyidik mengatakan Amuk baru bekerja dua minggu.

Hingga berita ini dirilis, Kasat Reskrim AKP Ayu Kusuma Ningrum belum bisa dikonfirmasi tentang keberadaan dua unit alat berat yang raib dari lokasi tersebut. Pesan singkat yang dikirimkan pada Sabtu (11/09/2021) belum ditanggapi. (red)