Hasil Test Swab Antigen Berbeda, Ini Penjelasan RSBT dan RS. KIM

BABELTERKINI.COM, PANGKALPINANG – Belakangan ini seorang masyarakat dibuat bingung dengan hasil test swab antigen yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) dan Rumah Sakit Kalbu Intan Medika (RS KIM). Pasalnya, hasil test yang dikeluarkan oleh kedua rumah sakit tersebut berbeda.

Salah satu masyarakat inisial AU menceritakan, pertama kali dirinya melakukan test swab antigen di Rumah Sakit Bakti Timah yang menyatakan hasil positif Covid-19.

Merasa tidak puas dengan hasil test swab tersebut, dirinya pun melakukan pemeriksaan kembali ke Rumah Sakit Kalbu Intan Medika, ternyata hasil test swab di rumah sakit tersebut menyatakan negatif Covid-19.

“Tetapi pihak rumah sakit kedua tidak mau mengeluarkan surat hasil test itu,” ucap AU kepada wartawan, Sabtu (05/03/2022).

Menindaklanjuti informasi tersebut, sejumlah awak media berupaya meminta konfirmasi kepada Kepala Humas Rumah Sakit Bakti Timah, Faisal mewakili Dokter NV selaku penanggungjawab  hasil swab sekaligus sebagai dokter spesialis patologis klinis RS. Bakti Timah, Sabtu (05/03/2022).

“Beliau (dr. NV) menjawab sesuai kompetensinya sudah dijawab kalau di kita hasilnya positif yah itu lah alat yang kita pakai, artinya dalam hal ini baik, alat atau pun petugasnya itu sudah sesuai standar,” kata Faisal.

“Nah kalau memang hasilnya positif, maka itu lah hasil yang ditunjukan alat test nya seperti ini diambil cairan di hidung lalu diteruskan, di alat seperti tespek itu,” tambahnya.

Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan test swab antigen itu telah sesuai dengan prosedur dan peralatan yang telah ditetapkan berdasarkan SOP.

“Bukan kita yang mengada-ada Memang alat itu yang bekerja alat kita pun sudah sesuai standart nya, kalau tadi kejadian nya di RS Kim hasilnya negatif kami juga kurang tau kenapa bisa hasilnya negatif, bisa saja faktor-faktor yang mempengaruhi itu” terangnya.

Adapun proses pengambilan sampel , apakah sudah sesuai standar, kemudian pada saat prosesnya itu apakah itu memang sudah diambil ditempat yang seharusnya sesuai sample dan untuk yang lain lagi, kita tidak bisa terlalu jauh karena, alat yang bekerja menentukan dan kalo memang melakukan, antigen hasil nya di ragukan itu dilanjutkan dengan, PCR  itu pemeriksaannya lebih detail

“Seperti yang kejadian kedua tadi kok hasil nya bisa positid dan memang dari grafiknya seperti yang dijelaskan dokter tadi dibawa buktinya, hasil pemeriksaan dari grafik nya itu kurvanya itu sudah menunjukan hasil yang positif, Itu sudah sesuai kompetensi nya,” bebernya.

Berdasarkan keterangan Dokter NV, dia menjelaskan, memang yang lebih akurat nya itu lewat PCR. Kalau memang masyarakat masih ragu terhadap yang kedua hasil tadi.

“Namun kalau untuk perjalanan itu dari kita selalu institusi menyelenggarakan swab antigen itu hasil nya keluar langsung kita input ke New ol record nya otomatis disitu sudah langsung ke rekam bahwa hasilnya adalah positif,” jelasnya.

“Terlepas mereka mengambil sempel kerumah sakit lain ya itu kita tidak bertanggung jawab lagi terhadap itu arti nya kita mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan sesuai yang kita laksanakan, cuma dua metode yang di sarankan pemerintahan Swab antigen dan PCR nah itu semua kan alat yang bekerja user itu sesuai dengan bidang, ilmu, kemampuannya mereka yang membaca grafik di komputer itu hasil memang sudah terekam dari alat  yang membaca kalo lebih jauh pertnyaan nya tidak bisa menjawab lagi,” ujar Faisal

Terpisah, Jesika selaku HRD/marketing RS Kalbu Intan Medika menjelaskan, soal kepastian Kemenkes sendiri tidak bisa bilang pasti karena antigen itu hanya mengetahui bahwa virus nya ada di tubuh pasien atau tidak.

“Bahkan virusnya itu belum tentu ada dibadan kita sisa virus mati yang dari hidung itu juga akan positif di antigen pasti dia akan PCR jdi tau ada atau tidak kalo kita sih, setau saya sebelum orang antigen kita cek peduli lindungi pasti kita kasih tau, seandainya dia hitam nah misal bpak positif kalo seandainya keluar begitu pasti tidak kita input selalu di cek dari awal pendaftaran yang input yakin pak tetep mau test itu terkait berbeda hasil test dirumah sakit berbeda banyak faktor nya pertama cara pengambilan sementara antigen itu dsatukan di sekitaran hidung nya karena kita cuma mau tau, apakah ada apa tidak arah, saluran pernapasan nya yang ke dua itu alat yang digunakan diindonesia ini walaupun sudah banyak yang dikeluarkan izin nya itu tidak sama,” urainya.

“Sedangkan PCR itu ajah beda level bahkan caranya aja itu berbeda-beda test yang dibuat sekarang tidak pasti Alat itu cuma mengetahui apakah-apakah saja apa lagi terutama PCR paling sering itu poros negatif kondisi seseorang juga bisa, mempengaruhi dan ada 3 macam utuk biaya Swab antigen antara nya Rp 99.000  karena tidak, dibolehin untuk mengeluarkan hasil test mau pun kita input dilain tidak akan bisa karena kalo memang positif dia harus mengaku ada istilah itu jajan antigen iya sih masyarakat ingin kebenaran dengan hasil test kalo masyarakat dipeduli lindungi status hitam biasa nya tidak kita kasih, aku berfikir nya begini status yang bersangkutan Hitam tetep dia lanjutkan untuk test kita melakukan streaming nya tetapi tidak mengeluarkan hasil nya itu new all record  karena sudah dilakukan test pemakaian alat maka tidak bisa di kembalikan lagi,” jelasnya.

Untuk surat memang tidak bisa dikeluarkan karena sengaja itu orang untuk pindah tempat mencari hasil Negatife itu alat memang tidak memastikan antara iya atau tidak test tidak ada yang 100% pasti hasil nya,” pungkas Jesika. (Bal)