Sidang Kasus Penyerangan, Saksi Ungkap Peristiwa Itu Betul-betul Terjadi di Depan Mata

BABELTERKINI.COM, BANGKA – Sidang kasus penyerangan dan pengeroyokan terhadap Kailani ASN Dispora Bangka kembali bergulir di PN Sungailiat, Selasa (17/5/2022).

Kali ini, agendanya pemeriksaan saksi dari pihak korban dan saksi yang menyaksikan langsung di tempat kejadian perkara sebanyak 4 orang yakni Kailani selaki korban, Sisca Pujih Hastuti (istri korban), Yusnandar dan Rustam.

“Benar, hari ini sidang kasus penyerangan dan pengeroyokan terhadap ASN Dispora digelar. Bahkan sudah dimulai sejak tadi,” ungkap Kasi Pidum Kejari Bangka, Nendri Aditama di ruang kerjanya, Selasa (17/5/2022).

Dalam pantauan, sidang tersebut digelar secara virtual, dimana para saksi dari pihak korban oleh JPU, Fitri dihadirkan di Kejaksaan Negeri Bangka. Sementara majelis hakim berada di ruang sidang 1 PN Sungailiat, dan para terdakwa sebanyak 5 orang berada di Lapas Bukit Semut, Sungailiat.

Sementara itu, dari persidangan, Kailani selaku saksi korban saat dimintai keterangan oleh ketua majelis hakim, Hj. Adria Dwi Afanti sempat mengungkapkan kejadian yang menimpa dirinya sesuai dengan yang telah disampaikan dalam BAP.
“Yang mulia, pada saat itu saya melihat betul, para terdakwa ini dengan membawa balok kayu, parang dan pisau. Kepala saya kanan kiri, dan otak dihantam pakai balok, begitu juga dengan tangan saya sampai kaku dihajar pakai balok. Kaki saya dibacok dengan parang,” ungkap Kailani selaku korban.

Kailani juga menyampaikan jika
kejadian itu merupakan rencana pembunuhan, penyerangan, pengeroyokan, penganiayaan, pengerusakan didalangi oleh sdr. Rudini.

” Yang mulia, peristiwa itu sangat berdampak terhadap isteri dan anak-anak karena mereka mengalami ketakutan yg luar biasa. Sehingga kami sekeluarga takut untuk pulang ke rumah sampai dengan hari ini. Sejak dari peristiwa itu,” tutur Kailani.

“Akibat dari pembacokan di kepala. Saya terpaksa harus mendapat rujukan dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis rehabilitasi medik, dan dokter spesialis THT, serta dokter spesialis syaraf,” sambungnya.

Tidak hanya itu, lanjut Kailani, bahwa anak anaknya yang masih kecil saat ini takut untuk bersekolah. Sementara isterinya harus dirujuk kepsikiater setiap bulan.

“Saya dan isteri serta anak anak bener bener melihat tindakan para pelaku yang keji atas kejadian tersebut,” tandasnya.

Masih dikatakan Kailani, bahwa pelaku sudah sering melakukan hal seperti ini dan para pelaku seringkali mengatakan kepada dirinya bahwa mereka tidak takut hukum.

“Oleh itu. Saya memohon kepada yang mulia ibu dan bapak hakim untuk memberikan putusan yg seberat- beratnya,” pungkasnya.

Demikian juga saksi Sisca Pujih Hastuti (istri korban, red) saat diberi kesempatan oleh ketua majelis hakim, Adria Dwi Afanti, saksi Sisca dengan cucuran air mata memohon kepada majelis hakim agar para pelaku dapat dihukum seberat beratnya.

“Yang mulia Ibu dan Bapak hakim. Kami sudah sangat menderita akibat dari perbuatan para pelaku. Kami mohon agar mereka dihukum seberat beratnya,” pintanya.

Sementara itu, dalam persidangan sempat diwarnai perdebatan antara pengacara para terdakwa dengan para saksi terutama dengan saksi Sisca, sehingga ketua majelis hakim, Adria terpaksa menengahi perdebatan keduanya dengan mengambil alih pertanyaan yang dilontarkan pihak pengacara kepada saksi Sisca.

Selanjutnya, setelah mendengarkan keterangan para saksi, Ketua majelis hakim kembali menanyakan kepada masing masing terdakwa, apakah terdakwa keberatan terhadap keterangan para saksi?

” Keberatan yang mulia,” kata masing masing terdakwa.

Selanjutnya, Ketua majelis hakim, Adria menyampaikan bahwa keberatan para terdakwa atas keterangan dari saksi merupakan hak mereka.
“Keberatan saudara terdakwa, itu hak saudara,” kata ketua majelis seraya menutup sidang dengan mengetuk palunya. (red)