Prabowo Dorong Hemat BBM, Akankah Mayarakat Alami “Panic Bulying” Kembali Jelang Idulfitri 2026
Sumber: Putri Nurjana, mahasiswa UBB
BABELTERKINI.COM, JAKARTA– Dampak perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang terjadi sejak akhir Februari 2026 telah mempengaruhi perdagangan komoditas energi Indonesia. Namun bukan pada kenaikkan harga BBM, melainkan kepanikan masyarakat akan habisnya strok penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) nasional.
Bermula pada ungkapan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026. Bahlil mengatakan cadangan BBM Indonesia cukup untuk 20 hari setelah penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi BBM dunia, akibat perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, bukankah ini situasi darurat?. Akibatnya, banyak masyarakat di berbagai daerah Indonesia mengalami kepadatan dalam antrean BBM di SPBU atas rentannya stok BBM nasional.
Setelah banyaknya kericuhan yang terjadi beliau mengklarifikasi bahwa sejak dulu memang kapasitas storage penampungan bahan bakar minyak (BBM) nasional hanya 25 hari saja. Beliau juga memastikan, bahwa kepemilikan minyak Indonesia itu aman, sehingga masyarakat tidak perlu melakukan aksi borong alias “Panic Buying”.
“Kemampuan storage tempat penampungan minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari. Jadi tempat storagenya itu hanya hanya 25 hari. Dari dulu itu, bukan baru sekarang, dari dulu.” ujar Ketua Umum Partai Golkar di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat, Jumat, 6 Maret 2026.
Beliau juga menjelaskan bahwa standar minimal ketersediaan BBM Indonesia itu memang di atas 20 hari. “Sekarang minyak kita 23 hari. Jadi, itu artinya bahwa standar kepemilikan kita, minyak kita itu aman. Jadi enggak perlu ‘panic buying’, enggak perlu, supply lancar.” sambungnya. Dan mengatakan bahwa, yang Indonesia ambil dari Timur Tengah itu minyak mentah, bukan minyak jadi. Itu pun minyak mentah yang diambil Indonesia dari Timur Tengah hanya sebanyak 20-25% saja.



