Perang Iran Picu ASEAN Kembangkan Nuklir, Teknologi SMR Dinilai Lebih Fleksibel

Oby

BABELTERKINI.COM, JAKARTA – Krisis energi global akibat perang Iran mendorong negara-negara Asia Tenggara kembali mempertimbangkan pengembangan energi nuklir. Lonjakan harga minyak dan gas setelah penutupan Selat Hormuz memperbesar tekanan bagi kawasan yang mayoritas masih bergantung pada impor energi.

Dikutip yahoo.com, pada 23 Maret, Vietnam dan Rusia menandatangani kesepakatan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Provinsi Ninh Thuan. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi dalam satu dekade dan menjadi pembangkit nuklir modern pertama di Asia Tenggara. Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Filipina juga menyatakan rencana serupa untuk menambah kapasitas energi nuklir.

“Sebelumnya, transisi energi bersih di kawasan ini sebagian besar didorong oleh pertimbangan ekonomi terutama meningkatnya harapan perusahaan untuk mendapatkan akses ke listrik rendah karbon,” kata Tan-Soo Jie-Sheng dari Universitas Nasional Singapura.

“Namun, guncangan geopolitik seperti perang Iran membawa dimensi keamanan energi kembali menjadi fokus yang lebih tajam.”

Upaya pengembangan nuklir di kawasan bukan hal baru. Filipina pernah membangun Bataan Nuclear Power Plant pada 1976 dengan biaya sekitar US$2,2 miliar, namun tidak pernah dioperasikan karena isu korupsi dan kekhawatiran keselamatan setelah bencana Chernobyl.

Tutup
error: Content is protected !!