Krisis Energi Paksa Asia dan Afrika Lirik Nuklir

Oby

BABELTERKINI.COM, NAIROBI – Krisis energi yang dipicu perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran mendorong sejumlah negara non-nuklir mulai melirik sumber energi tanpa emisi tersebut. Perang memangkas pasokan energi, terutama di Asia dan Afrika.

Blokade Selat Hormuz, jalur seperlima perdagangan minyak dan salah satu rute utama perdagangan gas dunia, menaikkan harga energi. Hal ini mendorong negara-negara Asia dan Afrika yang sudah memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) meningkatkan produksi mereka.

Sementara itu, negara-negara non-nuklir juga mempercepat penyusunan rencana pembangunan PLTN untuk mengamankan pasokan energi di tengah meningkatnya volatilitas harga bahan bakar fosil. Namun, pakar mengingatkan nuklir bukan solusi cepat untuk krisis energi.

Peneliti senior Council on Foreign Relations (CFR) Joshua Kurlantzick mengatakan, butuh puluhan tahun untuk membangun PLTN, terutama bagi negara yang belum pernah memilikinya. Namun, PLTN dapat menjadi langkah jangka panjang untuk menjaga pasokan energi.

Konflik AS-Iran mendorong Korea Selatan (Korsel) meningkatkan produksi PLTN mereka. Sementara Taiwan sedang mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali PLTN yang sudah dinonaktifkan.

Tutup
error: Content is protected !!