Petani Menua, Anak Muda Menjauh: Krisis Regenerasi Pertanian Indonesia 

Oby

Oleh Shagita Nabila Mahasiswa Agribisnis Universitas Bangka Belitung

BABELTERKINI.COM – Petani Indonesia menua, yang muda menjauh, dan belum ada kebijakan yang benar-benar serius menghadapi kenyataan itu. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Sensus Pertanian 2023 mencatat bahwa mayoritas petani Indonesia berusia di atas 55 tahun, dan petani berusia di bawah 44 tahun terus mengalami penurunan. Angka ini merupakan cerminan kondisi sektor pertanian Indonesia secara keseluruhan. Ini bukan krisis yang datang mendadak, melainkan akumulasi dari pilihan-pilihan yang selama ini dianggap wajar.

Fenomena ini bukan sekadar soal tua-muda. Di balik angka itu tersimpan pergeseran orientasi hidup yang berlangsung diam-diam selama dua dekade terakhir. Anak-anak petani tumbuh menyaksikan orang tua mereka bekerja keras dari subuh hingga petang, namun penghasilan yang diraih tidak pernah benar-benar lepas dari jerat pinjaman modal musim tanam berikutnya. Mereka menyaksikan panen berlimpah tetapi harga jatuh karena tengkulak mengendalikan harga pasar. Maka ketika kesempatan merantau terbuka atau sekadar mendapat pekerjaan sebagai kasir minimarket di kota kecamatan, pilihan itu terasa jauh lebih masuk akal dibandingkan mewarisi cangkul dan tumpukan utang pupuk. Berdasarkan Sensus Pertanian 2023 (BPS, 2023), petani berusia milenial (27-42 tahun) hanya mencakup sekitar 25,61 persen dari total petani, sementara generasi yang lebih muda hampir tidak terlihat, angka yang mencerminkan tekanan besar bagi sektor yang menyumbang sekitar 13 persen PDB nasional.

Yang membuat persoalan ini semakin pelik adalah kenyataan bahwa pertanian Indonesia tidak hanya kekurangan tenaga muda, tetapi juga kekurangan daya tarik struktural untuk memikat mereka kembali. Rata-rata penguasaan lahan petani Indonesia hanya 0,78 hektare per rumah tangga (BPS, 2023), jauh dari skala yang secara ekonomis menguntungkan. Dengan lahan sekecil itu, modal produksi yang terus naik, dan harga jual yang fluktuatif mengikuti selera pasar internasional, margin keuntungan bertani nyaris tidak mampu bersaing dengan upah minimum buruh industri. Tidak ada generasi muda yang bisa dipersalahkan karena memilih sektor lain ketika kalkulasi ekonominya sejelas ini.

Namun berhenti pada diagnosis ekonomi saja berarti menutup mata terhadap dimensi yang lebih dalam. Pertanian bukan semata-mata profesi, ia adalah pengetahuan yang diwariskan, ekosistem sosial yang terhubung, dan jati diri masyarakat yang membutuhkan kesinambungan generasi untuk tetap hidup. Ketika seorang petani senior meninggal tanpa sempat mentransfer pengetahuannya tentang musim, karakter tanah lokal, atau varietas tanaman yang cocok untuk topografi wilayahnya, pengetahuan itu ikut lenyap. Tidak ada aplikasi smartphone yang bisa menggantikannya sepenuhnya. FAO (2023) mencatat bahwa kesenjangan gender dan ketimpangan akses sumber daya dalam sistem pangan sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan ketahanan pangan jangka panjang, terutama di negara-negara berkembang yang masih bertumpu pada pertanian skala kecil.

Ironisnya, pembahasan kebijakan pertanian Indonesia selama ini lebih banyak terfokus pada produktivitas komoditas daripada keberlanjutan sumber daya manusianya. Program subsidi pupuk saja menyerap anggaran negara sebesar Rp24 triliun pada 2023 dan naik menjadi Rp26,68 triliun pada 2024 (Kementerian Keuangan, 2024), tetapi anggaran untuk pemberdayaan pemuda tani dan regenerasi petani tidak pernah mendapat porsi yang sepadan. Seolah-olah pemerintah percaya bahwa input produksi yang cukup akan dengan sendirinya menarik anak muda kembali ke lahan, sebuah logika yang tidak pernah terbukti di manapun. Yang dibutuhkan bukan sekadar insentif produktif, melainkan transformasi menyeluruh terhadap citra dan ekosistem pertanian itu sendiri.

Sebagian pihak berargumen bahwa mekanisasi pertanian adalah jawabannya, biarkan saja mesin menggantikan tangan-tangan yang hilang. Argumen ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak menyentuh akar masalah. Mekanisasi memerlukan modal, perawatan teknis, dan infrastruktur pendukung yang di banyak daerah masih jauh dari memadai. Lebih jauh, pertanian tropis dengan keanekaragaman komoditas dan kondisi topografi yang beragam seperti Indonesia tidak selalu bisa sepenuhnya diotomatisasi. Ada jenis pekerjaan pertanian yang masih memerlukan kehadiran manusia yang terampil, adaptif, dan berdedikasi, bukan sekadar operator mesin yang datang musiman.

Jalan keluarnya mungkin bukan dengan memaksa anak muda kembali menggarap lahan seperti generasi sebelumnya, melainkan dengan menciptakan ekosistem pertanian yang benar-benar berbeda dari yang mereka warisi. Pertanian berbasis teknologi presisi, model kemitraan yang transparan antara petani muda dan perusahaan offtaker, skema pembiayaan yang ramah risiko untuk petani pemula, serta pengakuan sosial yang lebih serius terhadap profesi petani, semua ini bukan konsep baru, tetapi implementasinya masih tertatih.

Indonesia bisa mengambil contoh dari Korea Selatan yang pernah menghadapi tekanan serupa. Pada pertengahan 1980-an, banyak lahan pertanian ditinggalkan karena petaninya terlalu tua untuk menggarap dan tidak ada generasi muda yang bersedia meneruskan (TES, 2000). Pemerintahnya merespons dengan program “Future Farmers” yang sejak 1981 memilih seribu petani muda setiap tahun untuk menerima pinjaman hingga USD175.000 dengan tenor 15 tahun, kombinasi insentif ekonomi nyata dan pengakuan pertanian sebagai profesi masa depan (GFRAS, n.d.). Hasilnya tidak instan, tetapi konsisten, pertanian Korea bertransformasi dari sektor yang ditinggalkan menjadi industri yang secara serius diinvestasikan kembali.

Indonesia memiliki semua modal untuk melakukan hal serupa, keanekaragaman hayati yang luar biasa, potensi pasar domestik yang besar, dan generasi muda yang sebenarnya tidak anti pertanian. Mereka hanya anti kemiskinan penuh kerja keras dan kotor. Jika pertanian bisa menawarkan pendapatan layak, kepastian hukum atas lahan, akses teknologi yang relevan, dan ruang untuk berinovasi, tidak ada alasan kuat mengapa anak muda Indonesia tidak akan meliriknya kembali. Yang perlu berubah bukan hanya kebijakan, tetapi juga cara kita menceritakan pertanian kepada generasi berikutnya, bukan sebagai warisan beban, melainkan sebagai peluang yang belum sepenuhnya dijamah. Petani yang menua itu tidak akan menunggu selamanya, dan ketika mereka pergi, yang ikut hilang bukan hanya tenaga kerja tetapi juga kemampuan bangsa ini untuk memberi makan dirinya sendiri.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik. (2023). Hasil Sensus Pertanian 2023: Gambaran umum rumah tangga
usaha pertanian. BPS RI. https://www.bps.go.id

Badan Pusat Statistik. (2023). Hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2023 tahap I:
Sebaran petani Indonesia menurut kelompok generasi. BPS RI.
https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2023/12/04/2050/hasil-pencacahan-lengkapsensus-pertanian-2023—tahap-i.html

Food and Agriculture Organization of the United Nations. (2023). The status of women in
agrifood systems. FAO. https://doi.org/10.4060/cc5343en

Global Forum for Rural Advisory Services (GFRAS). (n.d.). South Korea: Agricultural
extension and advisory services country profile. https://www.g-fras.org/en/ggphome/96-world-wide-extension-study/asia/eastern-asia/535-south-korea.html

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2024). Subsidi pupuk APBN 2024 sebesar
Rp26,68 triliun. Kementerian Keuangan RI. https://www.kemenkeu.go.id

Times Educational Supplement (TES). (2000, September 29). The flight from the land.
https://www.tes.com/magazine/archive/flight-land

Tutup
error: Content is protected !!