Bogor, Rafles dan Pak Didi

Ist

Ist

BABELTERKINI.COM – Pak Didi (nama panggilan Dirut PT Timah sekarang) itu lahir di Bogor. Ingat Bogor, ingat Kebun Raya. Ingat Kebun Raya ingat Raffles karena punya andil dalam pengadaan Kebun Raya Bogor menjadi seperti sekarang. Siapa yg pernah ke Kebun Raya bisa melihat ada tugu khusus dibangun Raffles untuk mengenang istrinya tercinta yang meninggal dunia dan dimakamkan di Batavia.

Nah, kaitan Rafles dengan Bangka ini ada juga rupanya dicatat dalam sejarah. Raffles tenyata jatuh cinta juga dengan pulau ini. Istilah yang diberikannya untuk pulau ini: Duke of York’s Island.

Selain karena faktor timahnya yang dapat mengisi pundi-pundi Inggris, Bangka juga pulau yang strategis dalam pelayaran. Teluk Kelabat di utara Bangka menurutnya sangat strategis untuk dijadikan basis Angkatan Laut. Sebutannya untuk Teluk Kelabat: Port of Wellington.

Sewaktu perjanjian di Eropa mewajibkan Inggris menyerahkan tanah jajahannya kembali ke Belanda, Rafles telah berusaha supaya Bangka tetap di tangan Inggris tapi tertolak.

Bukan berarti kita menyesali sejarah dan menyukai penjajah, tapi cara Inggris menjajah berbeda jauh dengan Belanda menjajah. Jadi sekiranya Bangka saat itu berada di bawah jahan Inggris, mungkin ceritanya akan lain.

Ada beberapa kebijakan Rafles yang berpihak kepada rakyat

1. Jenis penyerahan wajib pajak dan rodi harus dihapuskan.

2. Rakyat diberi kebebasan untuk menentukan tanaman yang ditanam.

3. Menghapus status perbudakan bagi petani. Tanah merupakan milik pemerintah dan petani dianggap sebagai penggarap.

Namun Rafles menjadi Gubernur hanya 5 tahun. Sekiranya lebih daripada itu, mungkin Bangka-Belitung bisa semakmur Brunai sekarang.

Yang jelas, setelah Indonesia merdeka, yang mengelola timah bukan lagi Belanda atau Inggris, tapi orang kita sendiri. Ini tentu suatu nikmat yang harus disyukuri, selain juga latihan dan uji kesabaran bagi rakyat Bangka ketika sering menyaksikan fakta-fakta pengelolaan timah di depan mata tak sesuai harapan.

Hari ini pengelolaan dan pemanfaatan Timah sekarang ada di tangan Pak Didi.
Ada kesan yang menarik saat kita berdialog dgn beliau. Pak Didi berkeyakinan bahwa SDA bijih timah ini suatu saat akan habis. Sementara kita belum mengadakan persiapan apa-apa untuk anak cucu kita ke depan.

Oleh karena itu beliau punya gagasan. Ada tiga hal pembangunan yg harus dipersiapkan dari sekarang sebelum pasca timah, yaitu: Infrastruktur, Pendidikan dan Kesehatan.

Gagasan baik ini harus di realisasikan.
Untuk merealisasikan gagasan ini tentunya dibutuhkan strategi yg bagus agar mendapat dukungan dari semua pihak.

Melihat kompleksnya persoalan pertimahan di Bangka Belitung, pengalaman beliau yang sudah begitu banyak memegang dan memimpin perusahaan pun, menurut pengakuan beliau, belum cukup kuat untuk bisa menyelesaikan persoalan pertimahan ini.

Oleh karena itu Pak Didi berharap banyak dari berbagai kalangan masyarakat untuk memberikan masukan- masukan positif kepada PT Timah.

Beliau sangat membuka diri dan membuka pikiran untuk bertemu dan berdialog dengan kalangan kampus, NGO, budayawan, tokoh masyarakat dalam rangka merealisasikan gagasan itu guna mempersiapkan sesuatu yg dibutuhkan oleh anak cucu masyarakat Bangka Belitung ini.

Tentu, kita semua perlu merespon positif keterbukaan orang nomor 1 PT Timah ini, selaras dengan konsep BALAI dari semboyan Serumpun Sebalai yg substansinya adalah ide.

Ide untuk PT Timah ini, sebetulnya adalah ide-ide kita warga KBB juga. Namun kita yakin, bersama Pak Didi, pertemuan ide-ide tidak hanya terhenti dalam pembicaraan. Spirit Sepintu Sedulang, Selawang Segantang, Sejiron Setason, Junjung Besaoh mengingatkan kita untuk bisa mewujudkan gagasan-gagasan itu menjadi kenyataan

Semoga orang kita yang saat ini diberikan amanah untuk mengelola timah di KBB, diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kekuatan untuk menyejahterakan orang-orang di pulau timah ini.

Penulis: Marwan Al Ja’fari